Perjalanan hidup sultan hasanuddin
20 September 2017
Pahlawan asal makassar
Sultan Hasanuddin
“Si Ayam Jantan Dari Timur”
Sultan hasanuddin merupakan tokoh pahlawan perjuangan kemerdekaan Dan beliau juga adalah raja Gowa yang ke -16 dan juga pahlawan nasional Indonesia. Nama asli beliau adalah I Mallombasi Muhammad bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Setelah beliau memeluk agama islam barulah beliau lebih dikenal dengan sultan hasanuddin.
Sultan hasannudin merupakan putra dari pasangan Sultan Malikussaid yang merupakan raja Gowa ke-15 dan juga I Sabbe To’mo Lakuntu. Sultan Hasanudin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 12 januari 1631 dan beliau wafat pada tanggal 12 Juni 1670 di Makassar, Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin mendapat julukan De Haantjes van Het Osten atau Ayam Jantan Dari Timur oleh belanda karena keberaniannya di dalam melawan kolonial Belanda. Berikut ini rincian singkat biografi Dari tokoh pahlawan asal sulawesi selatan ini:
Nama : Sultan Hasanuddin
Lahir : Makassar, 12 Januari 1631
Wafat : Makassar, 12 Juni 1670
Ibu : I Sabbe To’mo Lakuntu
Ayah : Sultan Malikussaid
Pasangan: I Bate Daeng Tommi (m. 1654), I Mami Daeng Sangnging (m. 1645), I Daeng Talele
Anak: Karaeng Galesong, Sultan Amir Hamzah, Sultan Muhammad Ali
Kisah perjalanan hidup Sultan Hasanuddin:
Sultan Hasannudin merupakan anak kedua dari pasangan Sultan Malikussaid yang merupakan raja Gowa ke-15 dan juga I Sabbe To’mo Lakuntu yang merupakan putri bangsawan Laikang.
Nama lahir Sultan Hasanuddin adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sultan Hasanuddin memiliki saudara perempuan bernama I Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je’ne.
Sejak kecil Sultan Hasanuddin telah memperlihatkan jiwa kepemimpinan, selain itu Ia juga memiliki kecerdasan dan kerajinan dalam belajar yang sangat menonjol dibanding dengan saudaranya yang lain, serta pandai bergaul dengan banyak orang tidak hanya di lingkungan istana tetapi juga dengan orang asing yang mendatangi Makassar untuk berdagang.
Pendidikan yang dijalaninya di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Masjid Bontoala membuatnya menjadi pemuda yang beragama, memiliki semangat juang, jujur, dan rendah hati.
Wafatnya Sultan Alauddin (Kakek Sultan Hasanuddin) Dan Pengangkatan Ayahnya Sebagai Raja Gowa
Saat Hasanuddin berumur 8 tahun, sang kakek yaitu Sultan Alauddin yang merupakan raja Gowa ke-14 wafat setelah memerintah kerajaan Gowa selama 46 tahun. Setelah kakeknya meninggal sang ayah Sultan Malikussaid menggantikan sebagai raja yang dilantik pada 15 Juni 1639.
Selama kepemimpinan ayahnya, Sultan Hasanuddin yang masih remaja sering diajak untuk menghadiri perundingan penting. Hal ini dilakukan sang ayah agar Hassanudin belajar tentang ilmu pemerintahan, diplomasi dan juga strategi perang.
Setelah pandai pada bidang tersebut, Hasanuddin pernah beberapa kali diutus untuk mewakili sang ayah mengunjungi kerajaan nusantara terutama daerah dalam gabungan pengawalan kerajaan Gowa.
Saat hendak memasuki usia 21 tahun, Hassanudin dipercaya untuk menjabat urusan pertahanan Gowa dan membantu ayahnya mengatur pertahanan untuk melawan Belanda.
Diangkat sebagai Raja Gowa-16
November 1653, pada usia 22 tahun, I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe diangkat menjadi Raja Gowa dengan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana. Pengangkatan tersebut merupakan pesan dari sang ayah sebelum wafat dan karena sifat yang tegas, berani serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luas pesan tersebut disetujui mangkubumi kerajaan yaitu Karaeng Pattingaloang.
Melawan VOC
Sultan Hasanuddin memerintah kerajaan saat Belanda hendak menguasai rempah-rempah dan memonopoli hasil perdagangan wilayah timur Indonesia, Belanda melarang orang Makassar berdagang dengan musuh belanda seperti Portugis atau yang lainnya. Keinginan Belanda yang ingin melakukan monopoli perdagangan melalui VOC ditolak keras oleh Raja Gowa yaitu Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin masih berpendirian sama seperti kakek dan ayahnya bahwa tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki dan dipakai bersama-sama.
Karena menentang usaha monopoli yang hendak dilakukan VOC dan juga Kerajaan Gowa merupakan kerajaan terbesar yang menguasai jalur perdagangan, VOC berusaha mengahncurkan Kerajaan Gowa.
Perang Melawan Belanda Dan Sultan Hasanuddin Turun Tahta
Pada tahun 1666, Belanda dibawah kepemimpinan Laksamana Cornelis Speelman berusaha menguasai kerajaan-kerajaan kecil yang ada di bagian timur Indonesia. Namun usaha mereka untuk menguasai kerajaan Gowa belum berhasi karena Raja Gowa yaitu Sultan Hasanuddin berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan kecil di bagian timur Indonesia untuk melawan Belanda.
Peperangan yang terjadi antara kedua belah pihak selalu diakhiri dengan perjanjian perdamaian dan gencatan senjata namun VOC selalu melanggar dan hal tersebut merugikan Kerajaan Gowa.
Belanda terus menambah pasukan selama peperangan sehingga Kerajaan Gowa semakin lemah dan terdesak, lalu dengan pertimbangan pada 18 November 1667 Sultan Hasanuddin bersedia menandatangani Perjanjian Bungaya
Rakyat dan Kerajaan Gowa yang merasa sangat dirugikan dengan adanya perjanjian tersebut, pada 12 April1668 akhirnya perang kembali pecah.
Sultan Hasanuddin memberi perlawanan sengit. Namun karena pasukan Belanda yang dibantu dengan tentara luar, pada 24 Juni 1969 mereka berhasil menerobos Benteng Sombaopu yang merupakan benteng terkuat kerajaan Gowa.
Belanda terus melancarkan usahanya memecah belah Kerajaan Gowa, usaha yang dilakukan oleh mereka berhasil dengan beberapa pembesar kerajaan yang menyerah seperti Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese. Namun tidak dengan Sultan Hasanuddin yang telah bersumpah tidak akan pernah sudi bekerja sama dengan Belanda.
Penghargaan Sultan Hasanuddin
Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden : Keppres No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973
Seperti itulah ulasan kisah perjalanan hidup dari Sultan Hasanuddin ayam jago dari benua timur yang sempat penulis bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok pahlawan kita Sultan Hasanuddin.
Pahlawan asal makassar
Sultan Hasanuddin
“Si Ayam Jantan Dari Timur”
Sultan hasanuddin merupakan tokoh pahlawan perjuangan kemerdekaan Dan beliau juga adalah raja Gowa yang ke -16 dan juga pahlawan nasional Indonesia. Nama asli beliau adalah I Mallombasi Muhammad bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape. Setelah beliau memeluk agama islam barulah beliau lebih dikenal dengan sultan hasanuddin.
Sultan hasannudin merupakan putra dari pasangan Sultan Malikussaid yang merupakan raja Gowa ke-15 dan juga I Sabbe To’mo Lakuntu. Sultan Hasanudin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada tanggal 12 januari 1631 dan beliau wafat pada tanggal 12 Juni 1670 di Makassar, Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin mendapat julukan De Haantjes van Het Osten atau Ayam Jantan Dari Timur oleh belanda karena keberaniannya di dalam melawan kolonial Belanda. Berikut ini rincian singkat biografi Dari tokoh pahlawan asal sulawesi selatan ini:
Nama : Sultan Hasanuddin
Lahir : Makassar, 12 Januari 1631
Wafat : Makassar, 12 Juni 1670
Ibu : I Sabbe To’mo Lakuntu
Ayah : Sultan Malikussaid
Pasangan: I Bate Daeng Tommi (m. 1654), I Mami Daeng Sangnging (m. 1645), I Daeng Talele
Anak: Karaeng Galesong, Sultan Amir Hamzah, Sultan Muhammad Ali
Kisah perjalanan hidup Sultan Hasanuddin:
Sultan Hasannudin merupakan anak kedua dari pasangan Sultan Malikussaid yang merupakan raja Gowa ke-15 dan juga I Sabbe To’mo Lakuntu yang merupakan putri bangsawan Laikang.
Nama lahir Sultan Hasanuddin adalah I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Sultan Hasanuddin memiliki saudara perempuan bernama I Patimang Daeng Nisaking Karaeng Bonto Je’ne.
Sejak kecil Sultan Hasanuddin telah memperlihatkan jiwa kepemimpinan, selain itu Ia juga memiliki kecerdasan dan kerajinan dalam belajar yang sangat menonjol dibanding dengan saudaranya yang lain, serta pandai bergaul dengan banyak orang tidak hanya di lingkungan istana tetapi juga dengan orang asing yang mendatangi Makassar untuk berdagang.
Pendidikan yang dijalaninya di Pusat Pendidikan dan Pengajaran Islam di Masjid Bontoala membuatnya menjadi pemuda yang beragama, memiliki semangat juang, jujur, dan rendah hati.
Wafatnya Sultan Alauddin (Kakek Sultan Hasanuddin) Dan Pengangkatan Ayahnya Sebagai Raja Gowa
Saat Hasanuddin berumur 8 tahun, sang kakek yaitu Sultan Alauddin yang merupakan raja Gowa ke-14 wafat setelah memerintah kerajaan Gowa selama 46 tahun. Setelah kakeknya meninggal sang ayah Sultan Malikussaid menggantikan sebagai raja yang dilantik pada 15 Juni 1639.
Selama kepemimpinan ayahnya, Sultan Hasanuddin yang masih remaja sering diajak untuk menghadiri perundingan penting. Hal ini dilakukan sang ayah agar Hassanudin belajar tentang ilmu pemerintahan, diplomasi dan juga strategi perang.
Setelah pandai pada bidang tersebut, Hasanuddin pernah beberapa kali diutus untuk mewakili sang ayah mengunjungi kerajaan nusantara terutama daerah dalam gabungan pengawalan kerajaan Gowa.
Saat hendak memasuki usia 21 tahun, Hassanudin dipercaya untuk menjabat urusan pertahanan Gowa dan membantu ayahnya mengatur pertahanan untuk melawan Belanda.
Diangkat sebagai Raja Gowa-16
November 1653, pada usia 22 tahun, I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe diangkat menjadi Raja Gowa dengan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana. Pengangkatan tersebut merupakan pesan dari sang ayah sebelum wafat dan karena sifat yang tegas, berani serta memiliki kemampuan dan pengetahuan yang luas pesan tersebut disetujui mangkubumi kerajaan yaitu Karaeng Pattingaloang.
Melawan VOC
Sultan Hasanuddin memerintah kerajaan saat Belanda hendak menguasai rempah-rempah dan memonopoli hasil perdagangan wilayah timur Indonesia, Belanda melarang orang Makassar berdagang dengan musuh belanda seperti Portugis atau yang lainnya. Keinginan Belanda yang ingin melakukan monopoli perdagangan melalui VOC ditolak keras oleh Raja Gowa yaitu Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin masih berpendirian sama seperti kakek dan ayahnya bahwa tuhan menciptakan bumi dan lautan untuk dimiliki dan dipakai bersama-sama.
Karena menentang usaha monopoli yang hendak dilakukan VOC dan juga Kerajaan Gowa merupakan kerajaan terbesar yang menguasai jalur perdagangan, VOC berusaha mengahncurkan Kerajaan Gowa.
Perang Melawan Belanda Dan Sultan Hasanuddin Turun Tahta
Pada tahun 1666, Belanda dibawah kepemimpinan Laksamana Cornelis Speelman berusaha menguasai kerajaan-kerajaan kecil yang ada di bagian timur Indonesia. Namun usaha mereka untuk menguasai kerajaan Gowa belum berhasi karena Raja Gowa yaitu Sultan Hasanuddin berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan kecil di bagian timur Indonesia untuk melawan Belanda.
Peperangan yang terjadi antara kedua belah pihak selalu diakhiri dengan perjanjian perdamaian dan gencatan senjata namun VOC selalu melanggar dan hal tersebut merugikan Kerajaan Gowa.
Belanda terus menambah pasukan selama peperangan sehingga Kerajaan Gowa semakin lemah dan terdesak, lalu dengan pertimbangan pada 18 November 1667 Sultan Hasanuddin bersedia menandatangani Perjanjian Bungaya
Rakyat dan Kerajaan Gowa yang merasa sangat dirugikan dengan adanya perjanjian tersebut, pada 12 April1668 akhirnya perang kembali pecah.
Sultan Hasanuddin memberi perlawanan sengit. Namun karena pasukan Belanda yang dibantu dengan tentara luar, pada 24 Juni 1969 mereka berhasil menerobos Benteng Sombaopu yang merupakan benteng terkuat kerajaan Gowa.
Belanda terus melancarkan usahanya memecah belah Kerajaan Gowa, usaha yang dilakukan oleh mereka berhasil dengan beberapa pembesar kerajaan yang menyerah seperti Karaeng Tallo dan Karaeng Lengkese. Namun tidak dengan Sultan Hasanuddin yang telah bersumpah tidak akan pernah sudi bekerja sama dengan Belanda.
Penghargaan Sultan Hasanuddin
Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden : Keppres No. 087/TK/1973, tanggal 6 November 1973
Seperti itulah ulasan kisah perjalanan hidup dari Sultan Hasanuddin ayam jago dari benua timur yang sempat penulis bagikan kepada pembaca. Semoga dengan hadirnya biografi diatas dapat membantu pembaca dalam mengenal lebih dalam sosok pahlawan kita Sultan Hasanuddin.

Maaf fotonya itu bukan Sultan Hasanuddin malah pangeran antasari
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus